Popular Post

Posted by : ahmad rifky ridha Sunday, 17 January 2016

Kata sejarah, moyang kita adalah pelaut ulung. Mereka merajai lautan. Mereka bukan sekadar turun ke laut memancing ikan, lalu balik lagi ke darat. Bahkan beberapa sejarawan menyusun hipotesa yang tak terduga terkait moyang kita yang menyambangi samudera melintasi benua, dan berkeliling dunia.
Bajak Laut
Ada yang percaya bahwa hikayat bajak laut yang paling banyak ditakuti di seluruh samudera adalah orang-orang Bugis. Anda bisa membayangkan, seandainya Johnny Depp adalah orang Bugis, maka akan semakin yakinlah kita.
Tapi jika bajak laut masih dianggap kurang meyakinkan, cerita lain justru tidak kalah menggemparkan. Yang paling mengejutkan adalah benua Amerika dan Australia konon adalah temuan orang-orang Bugis.
Columbus atau Cheng Ho
Gambar: histramar
Hipotesis mengenai penemuan benua Amerika tentu saja banyak dibantah oleh kalangan akademik, yang terlanjur meyakini bahwa Columbus, sekitar abad XV, sebagai orang pertama yang menjejakkan kaki di negeri Paman Syam itu. Tapi siapa yang tahu kejadian sejarah yang sebenarnya, selain mereka para pelaku?
Apalagi, hipotesis berbeda justru pernah dikemukakan seorang ahli kapal selam dan sejarawan Gavin Menzies tentang penemu Amerika yang bukan Columbus. Menurut Gavin, penemu Benua Amerika adalah Laksamana Muslim asal Cina bernama Cheng Ho. Dalam tulisannya, Cheng Ho telah menginjakkan kaki di benua baru itu, 70 tahun sebelum pelayaran Columbus.
Hipotesa Bugis
Gambar: wallmay.net
Tapi kesimpulan Bugis sebagai penemu Amerika memiliki argumentasi tersendiri. Konon, saat berlabuh di benua tempat pembuangan tokoh-tokoh politik itu, para awak kapal Bugis itu sempat mengagumi daratan temuan mereka.
Singkat cerita, ketika mereka hendak melanjutkan perjalanan keliling dunia, mereka melakukan ritual untuk memanggil angin. Maklum, saat itu, kapal-kapal penjelajah samudera belum ada yang dibekali dengan mesin. Praktis, ketika mereka hendak berlayar, mereka membutuhkan angin untuk mendorong kapal mereka untuk terus bergerak.
Saat ritual pemanggilan angin dilakukan, para awak kapal Bugis itu serentak berteriak “Ammirikko Anging…!” ungkapan tersebut bermakna “berhembuslah, angin…!” Kata “Ammirikko” itulah yang dianggap sebagai cikal bakal penamaan benua tersebut menjadi Amerika.
Cerita penemuan benua Australia juga dikaitkan dengan orang Bugis. Bahkan, suku asli Australia, Aborigin disebut-sebut sebagai keturunan orang Bugis. Beberapa temuan kosakata dan ungkapan sehari-hari orang Aborigin mirip dengan bahasa Bugis.
Anda boleh percaya, tidak pun boleh. Yang pasti, banyak saudara-saudara kita yang saat ini berada di perantauan, di seluruh penjuru dunia. Ada yang berstatus sebagai TKI, Mahasiswa, Duta Besar, menjadi turis, atau ikut dalam rombongan backpackers.
Bukan tidak mungkin, diantara para perantau itu, mereka mampu melakukan sesuatu yang membuka mata dunia. Siapa sangka suatu waktu ada orang Bugis yang mampu menancapkan bendera Merah Putih di puncak Gunung Everest.

Ternyata Penemu Benua Amerika Adalah Pelaut Bugis Makassar
Siapa yang paling pertama menemukan Benua Amerika?
Pertanyaan ini muncul dari salah seorang rekan Guru Sejarah ketika kami semua kumpul saat jam istirahat tadi,… maka terjadilah diskusi kecil-kecilan.. ada yang jawab Americo bla…bla…., ada yang jawan Christoper Columbuz, ada juga yang menjawab Vasco da Gama. Jawaban yang sangat menarik bagi saya untuk turut bergabung, meskipun jawaban yang saya siapkan belum tentu kebenarannya. Saya kemudian mengemukakan pendapat yang agak berbeda, sesuai dengan apa yang pernah saya baca dari situs http://www.angingmammiri.org 

Orang yang paling sangat pertama menemukan Benua Amerika sesungguhnya adalah Orang Indonesia yang bersuku Bugis Makassar. Namanya Karaeng Pa’Runtu’ Dg Passap’pa’ beserta kawan-kawan kelompok pelaut bugis.

Ceritanya seperti ini,……, Pada zaman Dahulu kala, bahkan sampai sekarang. Orang Bugis Makassar dikenal sebagai pelaut ulung. dengan menggunakan perahu bertiang dua yang disebut Pinisi.  

Karaeng Pa’Runtu’ Dg Passap’pa’ dan rombongan sementara berlayar, dalam perjalanan kapalnya terserang Badai yang sangat besar yang lebih dikenal dengan nama AQUA LAGUNA dan akibatnya Karaeng Pa’Runtu’ Dg Passap’pa’ beserta rombongan terdampar di sebuah pulau yang sangat asing dan tak berpenduduk. Rombongan lalu memasuki hutan meskipun mereka tahu kemungkinan besar akan menemukan banyak binatang super buas.

Setelah menyusuri hutan beberapa lama, mereka tidak berhasil menemukan manusia di semua bagian pulau, mereka akhirnya kembali ke pantai dan berusaha memperbaiki kapal dengan menggunakan peralatan yang ada dan bermaksud untuk melakukan pelayaran pulang ke Tanjung Bunga Makassar. Sialnya, layar telah berkembang tapi angin tak kunjung bertiup hingga asa tak sampai walaupun rindu akan kampoeng halaman telah menyergap seluruh rombongan , mereka kemudian memutuskan membaca mantra ajaib dari timur lalu beramai-ramai memanggil angin.

Am’mirik’ko…..…
Am’mirik’ko….....
Am’mirik’ko….....
(Bugis:Am’mirik’ko= Berhembuslah), semua crew berteriak…

Angin akhirnya berhembus dan mengembangkan layar perahu mereka yang membawaKaraeng Pa’Runtu’ Dg Passap’pa’ dan crew tiba kembali di kampung halaman.

Sesampainya di Tanjung bunga, Kapal berlabuh dan semua awak turun. Setelah semua awak turun, Karaeng Pa’Runtu’ Dg Passap’pa’ merasa ada yang kurang. Setelah berpikir agak lama, barulah dia menyadari bahwa salah satu awaknya tertinggal di pulau aneh itu. Awak yang tertinggal itu adalah SYAMSUDDIN

Sementara itu di sebuah tanjung, Syamsuddin terus menunggu dan berharap teman-temanya akan kembali dan menjemputnya. Tapi, yang datang adalah pelaut-pelaut portugis.

Orang Portugis bertanya dalam bahasa latin “Apa nama pulau ini?“, Syamsuddin bingung karena tidak mengerti bahasa latin. Dia mengira orang portugis itu menanyakan apa yang dia lakukan di pulau ini. Diapun menjawab dalam bahasa Internasional (Bugis Makassar) “aku ditinggalkan temanku, Apa kalian berpapasan dengan orang-orang yang berteriakAm’mirik’ko?".

Orang Portugis mengira Am’mirik’ko adalah nama pulau itu. Para pelaut Portugis itupun kembali ke kampung halamannya lalu melaporkan tentang sebuah pulau yang bernama Tanah Ameriko, yang selanjutnya disebut Amerika.

Selama ini Amerika telah menutup-nutupi bahwa Orang Bugis Makassar lah yang menemukan Benua Amerika. Mereka tidak ingin Dikatakan sebagi anak cucu Syamsuddin (baca:orang Indonesia). Bagaimanapun hal tersebut ditutup-tutupi, Amerika tetap berjuluk Negeri PamanSAM (-suddin).

Mereka juga tidak menyadari bahwa nama Amerika adalah padanan kata dari Am’mirik’ko. Dan, Tanjung Tempat Syamsuddin menunggu dan mengharapkan teman-teman yang tak akan pernah menjemputnya kemudian dikenal sebagai TANJUNG PENGHARAPAN.
Jan 15
Written by Administrator.
Orang mengenal Australia adalah daerah koloni Inggris yang dirintis sejak tahun 1788 sebagai tempat pembuangan para narapidana dan pelacur. Tapi berdasar penelitian berbagai literatur menunjukkan bahwa orang orang Bugis telah berlayar ke Australia untuk mencari tripang sebelum penjelajah Eropa mencapai benua itu.
Hanya saja, orang Bugis (Sulawesi) tidak mengklaim dan tidak menjadikan penduduk asli Aborigin sebagai bawahannya. Berbeda dengan orang Inggris yang menguasai benua Kanguru tersebut.
Dalam sejarah Indonesia, orang Bugis terkenal dengan kapal Pinisi telah menjelajah perairan di nusantara hingga ke Madagaskar di Afrika pada abad ke- 2, abad ke-4 dan abad ke-10. Sedangkan pada masa Sriwijaya, orang Bugis juga berlayar hingga ke Australia dan Afrika lagi pada abad ke-17.
Orang menyebut Bugis pada waktu itu sebenarnya meliputi sub suku Konjo, Mandar, Bugis dan Makassar. Jenis kapal kayu pinisi telah mengambil peran penting dalam sejarah pelayaran Indonesia selama berabad-abad.
Pada awalnya, orang-orang Eropa tidak tertarik menjadikan Australia sebagai koloni mereka. Namun, belakangan Inggris merasa terpukul karena koloninya yang paling penting di benua Amerika memerdekakan diri pada tahun 1776 yaitu Amerika Serikat.
Inggrisi juga dipusingkan oleh sistem penjara mereka yang tak lagi mampu menampung para narapidana. Maka Australia pun mulai dilirik sebagai tanah yang menjanjikan bagi pembentukan koloni baru. Inggris kemudian memutuskan untuk mengirim para narapidana yang sudah tak bisa ditampung penjara-penjara Inggris ke Australia menjadi generasi awal yang membangun koloni di sana.
Dalam tulisan Alwi Alatas, doktor bidang sejarah di Universiti Islam Antarabangsa Malaysia yang dikutip hidayatullah, menjelaskan pembentukan koloni baru ini bermula pada Januari 1788.
Sejak tahun itu Inggris mengirim para narapidana ke Australia secara bertahap hingga pertengahan abad 19 telah terkirim 150.000 orang. Dua puluh persen dari jumlah ini merupakan kaum perempuan dan berprofesi sebagai pelacur.
Setelah perekonomian koloni mulai berkembang, para imigran bukan narapidana dari berbagai negara Eropa mulai berdatangan ke benua Australia. Walau begitu, para narapidanalah yang telah memulai sejarah Australia modern.
Orang-orang dan anak-anak keturunan narapidana dan pelacurlah yang menjadi generasi awal pembentuk masyarakat dan negara Australia yang kini telah maju. Sejak itu terbuka jalan bagi terbentuknya peradaban baru di dua benua yang sangat besar yaitu Amerika dan Australia. (tb)


Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © EXACT TWO - Date A Live - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -