- Back to Home »
- bahasa indonesia »
- SEJARAH SUKU BUGIS
Kata
sejarah, moyang kita adalah pelaut ulung. Mereka merajai lautan. Mereka bukan
sekadar turun ke laut memancing ikan, lalu balik lagi ke darat. Bahkan beberapa
sejarawan menyusun hipotesa yang tak terduga terkait moyang kita yang
menyambangi samudera melintasi benua, dan berkeliling dunia.
Bajak Laut
Ada
yang percaya bahwa hikayat bajak laut yang paling banyak ditakuti di seluruh
samudera adalah orang-orang Bugis. Anda bisa membayangkan, seandainya Johnny
Depp adalah orang Bugis, maka akan semakin yakinlah kita.
Tapi
jika bajak laut masih dianggap kurang meyakinkan, cerita lain justru tidak
kalah menggemparkan. Yang paling mengejutkan adalah benua Amerika dan Australia
konon adalah temuan orang-orang Bugis.
Columbus atau Cheng Ho
Hipotesis
mengenai penemuan benua Amerika tentu saja banyak dibantah oleh kalangan
akademik, yang terlanjur meyakini bahwa Columbus, sekitar abad XV, sebagai
orang pertama yang menjejakkan kaki di negeri Paman Syam itu. Tapi siapa yang
tahu kejadian sejarah yang sebenarnya, selain mereka para pelaku?
Apalagi,
hipotesis berbeda justru pernah dikemukakan seorang ahli kapal selam dan
sejarawan Gavin Menzies tentang penemu Amerika yang bukan Columbus. Menurut
Gavin, penemu Benua Amerika adalah Laksamana Muslim asal Cina bernama Cheng Ho.
Dalam tulisannya, Cheng Ho telah menginjakkan kaki di benua baru itu, 70 tahun
sebelum pelayaran Columbus.
Hipotesa Bugis
Tapi
kesimpulan Bugis sebagai penemu Amerika memiliki argumentasi tersendiri. Konon,
saat berlabuh di benua tempat pembuangan tokoh-tokoh politik itu, para awak
kapal Bugis itu sempat mengagumi daratan temuan mereka.
Singkat
cerita, ketika mereka hendak melanjutkan perjalanan keliling dunia, mereka
melakukan ritual untuk memanggil angin. Maklum, saat itu, kapal-kapal
penjelajah samudera belum ada yang dibekali dengan mesin. Praktis, ketika
mereka hendak berlayar, mereka membutuhkan angin untuk mendorong kapal mereka
untuk terus bergerak.
Saat
ritual pemanggilan angin dilakukan, para awak kapal Bugis itu serentak
berteriak “Ammirikko Anging…!” ungkapan tersebut bermakna “berhembuslah,
angin…!” Kata “Ammirikko” itulah yang dianggap sebagai cikal bakal penamaan
benua tersebut menjadi Amerika.
Cerita
penemuan benua Australia juga dikaitkan dengan orang Bugis. Bahkan, suku asli
Australia, Aborigin disebut-sebut sebagai keturunan orang Bugis. Beberapa
temuan kosakata dan ungkapan sehari-hari orang Aborigin mirip dengan bahasa
Bugis.
Anda
boleh percaya, tidak pun boleh. Yang pasti, banyak saudara-saudara kita yang
saat ini berada di perantauan, di seluruh penjuru dunia. Ada yang berstatus
sebagai TKI, Mahasiswa, Duta Besar, menjadi turis, atau ikut dalam rombongan
backpackers.
Bukan
tidak mungkin, diantara para perantau itu, mereka mampu melakukan sesuatu yang
membuka mata dunia. Siapa sangka suatu waktu ada orang Bugis yang mampu
menancapkan bendera Merah Putih di puncak Gunung Everest.
Orang yang paling sangat pertama menemukan Benua Amerika sesungguhnya adalah Orang Indonesia yang bersuku Bugis Makassar. Namanya Karaeng Pa’Runtu’ Dg Passap’pa’ beserta kawan-kawan kelompok pelaut bugis.
Ceritanya seperti ini,……, Pada zaman Dahulu kala, bahkan sampai sekarang. Orang Bugis Makassar dikenal sebagai pelaut ulung. dengan menggunakan perahu bertiang dua yang disebut Pinisi.
Karaeng Pa’Runtu’ Dg Passap’pa’ dan rombongan sementara berlayar, dalam perjalanan kapalnya terserang Badai yang sangat besar yang lebih dikenal dengan nama AQUA LAGUNA dan akibatnya Karaeng Pa’Runtu’ Dg Passap’pa’ beserta rombongan terdampar di sebuah pulau yang sangat asing dan tak berpenduduk. Rombongan lalu memasuki hutan meskipun mereka tahu kemungkinan besar akan menemukan banyak binatang super buas.
Setelah menyusuri hutan beberapa lama, mereka tidak berhasil menemukan manusia di semua bagian pulau, mereka akhirnya kembali ke pantai dan berusaha memperbaiki kapal dengan menggunakan peralatan yang ada dan bermaksud untuk melakukan pelayaran pulang ke Tanjung Bunga Makassar. Sialnya, layar telah berkembang tapi angin tak kunjung bertiup hingga asa tak sampai walaupun rindu akan kampoeng halaman telah menyergap seluruh rombongan , mereka kemudian memutuskan membaca mantra ajaib dari timur lalu beramai-ramai memanggil angin.
Am’mirik’ko…..…
Am’mirik’ko….....
Am’mirik’ko….....
(Bugis:Am’mirik’ko= Berhembuslah), semua crew berteriak…
Angin akhirnya berhembus dan mengembangkan layar perahu mereka yang membawaKaraeng Pa’Runtu’ Dg Passap’pa’ dan crew tiba kembali di kampung halaman.
Sesampainya di Tanjung bunga, Kapal berlabuh dan semua awak turun. Setelah semua awak turun, Karaeng Pa’Runtu’ Dg Passap’pa’ merasa ada yang kurang. Setelah berpikir agak lama, barulah dia menyadari bahwa salah satu awaknya tertinggal di pulau aneh itu. Awak yang tertinggal itu adalah SYAMSUDDIN
Sementara itu di sebuah tanjung, Syamsuddin terus menunggu dan berharap teman-temanya akan kembali dan menjemputnya. Tapi, yang datang adalah pelaut-pelaut portugis.
Orang Portugis bertanya dalam bahasa latin “Apa nama pulau ini?“, Syamsuddin bingung karena tidak mengerti bahasa latin. Dia mengira orang portugis itu menanyakan apa yang dia lakukan di pulau ini. Diapun menjawab dalam bahasa Internasional (Bugis Makassar) “aku ditinggalkan temanku, Apa kalian berpapasan dengan orang-orang yang berteriakAm’mirik’ko?".
Orang Portugis mengira Am’mirik’ko adalah nama pulau itu. Para pelaut Portugis itupun kembali ke kampung halamannya lalu melaporkan tentang sebuah pulau yang bernama Tanah Ameriko, yang selanjutnya disebut Amerika.
Selama ini Amerika telah menutup-nutupi bahwa Orang Bugis Makassar lah yang menemukan Benua Amerika. Mereka tidak ingin Dikatakan sebagi anak cucu Syamsuddin (baca:orang Indonesia). Bagaimanapun hal tersebut ditutup-tutupi, Amerika tetap berjuluk Negeri PamanSAM (-suddin).
Mereka juga tidak menyadari bahwa nama Amerika adalah padanan kata dari Am’mirik’ko. Dan, Tanjung Tempat Syamsuddin menunggu dan mengharapkan teman-teman yang tak akan pernah menjemputnya kemudian dikenal sebagai TANJUNG PENGHARAPAN.